10 Septemer 2014
Sulit rasanya menggambarkan perjalanan kemarin dalam tulisan ini. Tapi aku akan tetap berusaha menjelaskannya padamu.
Hari itu aku tidak dapat membuka mata untuk melaksanakan shalat subuh. Matahari pagi memanggilku dari alam mimpi. Aku terbangun menghadapi hari. Menyiapkan bekal perjalanan nanti. Bang Seno menawari perjalanan seusai shalat jumat.
Waktu perjalanan kami pun tiba. Selain Bang Seno ada juga Bang Farid, Bang Solihun dan Bang Akil. Kita semua pernah tinggal se-asrama di Indonesia. Perjalanan kami yang pertama adalah Hıdırlık Tepesi (Puncak Serbaguna). Dari sana kami bisa melihat seluruh isi kota. Selain itu ada beberapa penginggalan penting berupa kuburan besar, pusaka-pusaka dan bentuk penghargaan dari UNESCO. Kemudian kami menuju ke perumahan kuno peradaban Usmani. Tepat di hadapan kami sebuah masjid tua yang masih berdiri dengan gagahnya. Tidak jauh dari masjid, kami menemukan rumah pandai besi.
Aku mendengar suara air yang mengalir dari satu sungai kecil yang berdinding batuan besar. Aliran itu langsung menarik perhatianku, namun tujuan kami saat itu adalah menelusuri gang-gang rumah tua. Di beberapa gang rumah tua tersebut dijadikan sebagai pasar. Mereka menyebutnya pasar kuno. Di pasar tersebut mereka menawarkan dagangan berupa sabun, parfum. kerajinan tangan, lokum (makanan khas turki) dan karya seni lainnya.
Sebagai kecamatan kota Karabuk, Safranbolu memiliki ciri khas daerah perbukitan, di mana kita akan dibuat lelah dengan jalan yang menanjak dan berliku-liku. Bang Seno sempat menganggapku remeh untuk berjalan jauh padahal aku sudah sering melakukan perjalan jauh semacam ini.
Seperti yang telah aku sebut sebelumnya bahwa yang menarik perhatian besarku adalah aliran sungai. Kami tiba di suara aliran air yang bernyanyi merdu, berangin sejuk, bersih dan berbau harum. Di pengawal batuan besar terdapat beberapa tulisan, tanda tangan para pengunjung. Kami melewati celah batuan dinding yang sempit untuk dapat sampai di hadapan air yang mengalir deras, Sayang air hujan menyebabkan air itu kotor, Hujan yang turun mengalir membawa bergenggam-genggam warna untuk mewarnai air sungai yang tak bersalah.
