Impian di Balik Taman London



Tahukah Anda bahwa rencana pemukiman Yahudi di Palestina sudah dibicarakan jauh sebelum konflik modern pecah? Pada tahun 1851, di sebuah taman di London, Perdana Menteri Inggris keturunan Yahudi, Benjamin Disraeli, membisikkan sebuah impian kepada sahabatnya, Lord Stanley. Disraeli membayangkan tanah Palestina yang kaya bisa dibeli dari Kekaisaran Ottoman yang saat itu sedang dililit hutang. Uangnya? Tentu saja dari kekayaan keluarga Rothschild dan tokoh Yahudi terkemuka lainnya. Namun, mereka menghadapi satu tembok besar yang tak tergoyahkan: Sultan Abdulhamid II.
Noda Abadi dan Penolakan Sang Sultan



Tawaran demi tawaran mulai berdatangan. Pada tahun 1879, Lawrence Oliphant mengajukan proposal untuk membuka wilayah Belka bagi pemukiman Yahudi dengan janji bantuan finansial yang besar bagi Ottoman. Namun, Sultan Abdulhamid II dengan tegas menolak. Beliau menyadari bahwa memberikan izin pemukiman sama saja dengan membiarkan ‘negara di dalam negara’ terbentuk. Sultan dengan lantang menyatakan bahwa membiarkan Yahudi menetap di Palestina akan menjadi ‘noda abadi bagi Negara Ottoman dan dunia Islam.’ Meski beliau tidak keberatan jika Yahudi bermigrasi ke wilayah lain seperti Anatolia, Palestina adalah harga mati yang tidak boleh disentuh.
Gerakan Bawah Tanah dan Dukungan Rothschild



Meskipun dilarang, gerakan ini tidak berhenti. Dr. Yehuda Leib Pinsker memulai Zionisme politik melalui perkumpulan ‘Hoveve Zion’ atau Pecinta Zion. Di balik layar, dukungan finansial raksasa mengalir dari Baron Edmond de Rothschild. Ia menyumbangkan jutaan pound sterling untuk membangun koloni-koloni Yahudi pertama seperti Rishon Le-Zion dan Petah Tikva. Bahkan, muncul gerakan radikal seperti ‘Biluim’ yang merilis manifesto pada 1882, secara terbuka menyatakan bahwa Palestina adalah tanah air yang diberikan Tuhan kepada mereka dan mereka akan terus mendesak Sultan atau mendirikan negara kecil di dalam Ottoman.
Pengkhianatan dan Awal Kehancuran



Memasuki Perang Dunia I, strategi berubah. Organisasi intelijen seperti NILI mulai bekerja sama dengan Inggris untuk menggembosi kekuatan Ottoman dari dalam. Mereka mencuri rencana pertahanan dan menyebarkan rumor untuk mengadu domba para pemimpin Ottoman. Puncaknya, setelah jatuhnya kekuasaan Sultan Abdulhamid II dan kemenangan Inggris, jalan menuju Deklarasi Balfour pun terbuka lebar. Apa yang dahulu disebut Sultan sebagai ‘noda abadi’ kini telah menjadi luka sejarah yang mendalam bagi dunia Islam. Penjajahan yang kita lihat hari ini, berakar dari ambisi panjang yang telah dirancang lebih dari seabad yang lalu.


