Langit Anatolia dan Ekspektasi yang Luruh di Adana

Dua pekan lamanya, saya dan istri memutuskan menepi dari rutinitas dan menjejakkan kaki di Turkiye. Bukan untuk larut dalam riuhnya pesona Istanbul yang sudah terlalu sering dikisahkan orang, melainkan terbang satu jam lebih jauh ke selatan. Tujuan kami adalah Adana—sebuah kota yang beringsut mendekati perbatasan Suriah.

Sebagai seorang muslim dari Indonesia, wajar jika kepala saya sudah dipenuhi dengan sketsa imajiner tentang Turkiye. Dari narasi media yang sering saya baca, saya membayangkan sebuah negeri dengan denyut agama yang menyala-nyala. Saya membayangkan rakyat yang begitu memuja sosok Presidennya yang karismatik, dengan sikapnya yang meledak-ledak dan tanpa kompromi jika menyangkut urusan Islam.

Di benak saya, kehidupan di sana pasti akan terasa sangat agamis. Bahkan, imajinasi saya meliar: mungkin akan mengalahkan nuansa kota santri seperti Pekalongan atau Madura, di mana para lelakinya ke mana-mana nyaman bersarung.

Namun, ekspektasi itu mulai retak sejak kami menginjakkan kaki di bandara Istanbul. Saat kami bersiap transit menuju penerbangan domestik ke Adana, mata saya menyapu sekeliling. Aneh, di lautan manusia itu, perempuan yang mengenakan jilbab seolah hanya istri saya. Awalnya saya menepis keheranan itu. “Ah, namanya juga bandara internasional, wajar saja kalau pemandangannya membaur dengan pendatang dari seluruh dunia,” batin saya.

Tetapi, pembelaan itu runtuh sesampainya kami di Adana. Menemukan wanita berjilbab di sana rupanya ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sangat jarang. “Wow… kok tidak seperti bayangan saya ya,” gumam saya dalam hati. Itulah kejutan manis sekaligus membingungkan yang menyapa saya di awal perjalanan.

Realita di Balik Pintu Tuan Rumah

Selama di Adana, kami ditampung oleh seorang kawan baik yang mulanya hanya saya kenal lewat media sosial. Mereka menyambut kami dengan kehangatan luar biasa, merawat kami seolah keluarga sendiri. Dari obrolan santai di ruang tamu hingga langkah kaki kami menyusuri sudut-sudut kota, banyak realita baru yang mulai terkuak.

Ada satu cerita yang paling membekas, bermula dari obrolan anak perempuan saya. Saat itu, ia sedang berkawan dengan seorang mahasiswi S2 di sana. Suatu hari, ketika anak saya bermain ke rumahnya, masuklah waktu sholat dan ia pun meminta izin untuk menunaikannya.

Selesai sholat, teman anak saya ini bertanya dengan raut keheranan. “Eh, kamu bisa sholat ya? Kamu hafal semua bacaannya?” Anak saya, tentu saja bingung, menjawab polos, “Iya hafal… memangnya kenapa?” Lalu meluncurlah sebuah pengakuan yang membuat kami tertegun. “Eh, kamu tahu tidak… saya itu tidak bisa sholat. Doanya saja saya tidak tahu, apalagi gerakan sholatnya.” Anak saya makin penasaran, “Lho, kamu kan Islam, masa tidak diajarkan di sekolah atau oleh orang tuamu?” Sambil tersenyum getir, temannya menjawab, “Ayahku seorang perwira tentara, dia tidak sholat. Ibuku seorang perawat, juga tidak sholat. Yang sholat di rumah cuma nenek saja, itupun hanya saat Idul Fitri dan Idul Adha. Dan di sekolah kami, memang tidak ada pelajaran agama.”

Fakta ini seperti mengurai benang kusut di kepala saya. Secara formal, memang tidak ada mata pelajaran agama di sekolah-sekolah Turkiye. Keluarga tempat kami menginap adalah salah satu dari sedikit keluarga yang masih memegang erat keyakinan mereka. Sang istri berjilbab, dan anak mereka pun sengaja dikursuskan di masjid terdekat agar bisa belajar agama. Kebanyakan wanita yang berjilbab di sana, rupanya masih memiliki garis keturunan Arab.

Insiden di Jalanan dan Suara yang Berbisik

Tuan rumah kami juga bercerita tentang realita sosial yang kadang bergesekan. Di daerah-daerah tertentu, masih ada oknum yang alergi terhadap simbol agama. Ia bercerita tentang sekelompok wanita Turkiye sekuler yang kadang secara provokatif mendatangi wanita berjilbab dan memaksa mereka melepasnya.

“Ini Turkiye, bukan Arab! Lepas tidak? Kalau tidak, kami rampas!” begitu ancam mereka. Beruntung, ia menyebutkan bahwa belakangan ini intensitas kejadian semacam itu sudah berangsur-angsur berkurang.

Gesekan sejarah itu juga terasa pada hal-hal yang sifatnya harian, seperti suara adzan. Jika di Indonesia adzan sering kali menggema keras menggetarkan udara, di Adana, suara dari pengeras suara masjid terdengar sangat “sopan” dan pelan. Saking pelannya, kalau kita tidak benar-benar memperhatikan, kita mungkin tidak sadar waktu sholat telah tiba. Konon, ini masih ada kaitannya dengan sisa-sisa kebijakan masa lalu sejak era Kemal Atatürk—di mana adzan bahkan sempat diubah ke dalam bahasa Turkiye, sebelum akhirnya dikembalikan ke lafaz aslinya oleh pendahulu di era-era sebelum sekarang.

Jumat yang Menggugurkan Sepi

Bicara soal ibadah, pengalaman sholat Jumat di Adana adalah kenangan yang tak mungkin saya lupakan. Jangan bayangkan kehebohan dan barisan rapat hingga meluber ke jalan seperti di Indonesia.

Di Jumat pertama, kami sedang berada di puncak musim dingin, namun matahari siang itu bersinar sangat cerah. Teman Turkiye saya tiba-tiba berkata, “Sholatnya di luar saja ya, enak ada matahari. Hangat. Daripada di dalam masjid dingin.”

Maka, digelar lah sajadah kami… di tengah kid playground alias taman bermain anak, sekitar 15 meter dari pagar luar masjid!

Di bawah dekapan matahari musim dingin yang hangat, pemandangan di sekitar saya terasa surealis. Di saat suara khatib sayup-sayup mengalun dari kejauhan, di depan dan belakang kami anak-anak sibuk berlarian bermain ayunan. Di satu sudut, ada seorang ibu yang sedang santai merokok mengawasi anaknya. Sesekali, kakek-nenek yang sedang jalan santai melintas begitu saja di antara kami dan bangunan masjid.

Oalah… begini amat ya, batin saya menahan senyum. Tidak ada shaf yang lurus dan rapat. Hanya ada saya dan dua teman Turkiye saya itu, ruku’ dan sujud di tengah taman bermain.

Di Jumat kedua, saya akhirnya berkesempatan sholat di dalam masjid. Saya masuk dan menempati shaf keempat. Khotbah selesai, sholat pun dimulai. Saya memperhatikan barisannya: shaf pertama penuh dari ujung ke ujung. Shaf kedua, ada “ompong” tiga orang. Shaf ketiga, berlubang lagi. Shaf keempat tempat saya berdiri, kosong melompong di empat bagian. Kerapian shaf yang selama ini menjadi pemandangan wajib di tanah air, rupanya menjadi barang langka di masjid yang saya kunjungi siang itu.

Pada akhirnya, saya menyadari posisi saya di sana. Saya hanyalah seorang pendatang, seorang musafir dengan bahasa yang masih berantakan. Tugas saya bukanlah untuk menghakimi, melainkan hanya melihat, meresapi, dan tersenyum dalam ketidakpahaman. No comment.

Ketika semua keheranan itu saya sampaikan kepada teman-teman saya di sana, mereka hanya tertawa kecil sambil mengangkat bahu. “Ya begitulah… ini Turkiye. Atau setidaknya, inilah Adana.”

Dan di bawah langit musim dingin itu, saya belajar satu hal: dunia terlalu luas untuk diukur sekadar dengan ekspektasi dari layar kaca.

sumber Quora

budipenerjemahturki
budipenerjemahturki
Articles: 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *